08 Mei 2022   13:26 WIB

Belum Ada Kasus, Blora Waspada Hepatitis Akut

DINKES    Berita
 Belum Ada Kasus, Blora Waspada Hepatitis Akut

Belum Ada Kasus, Blora Waspada Hepatitis Akut

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora menyatakan kewaspadaan terhadap penemuan kasus Hepatitis Akut supaya tidak terjadi di wilayah setempat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora Edi Widayat, S.Pd., M.Kes., MH.,menyampaikan hal tersebut menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/2515/2022, tanggal 27 April 2022, perihal Kewaspadaan Terhadap Kasus Hepatitis Akut yang tidak diketahui etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology).

Surat Edaran (SE) tersebut kemudian disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah nomor 000/2229 tanggal 6 Mei 2022l ditujukan kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten/Kota se Jawa Tengah yang ditandatangani secara elektronik oleh Sekda Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, SE.MM.

"Hal penting dalam Surat Edaran itu adalah Kewaspadaan Terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang tidak diketahui etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology)," terang Edi Widayat, di Blora, Jumat, (6/5/2022).

"Untuk di Blora belum ada, dan semoga tidak ada. Sehingga kita sudah meningkatkan kewaspadaan untuk antisipasi," jelas Edi Widayat.

Dalam SE diinformasikan bahwa :

1. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan pada 5 April 2022 dari
Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (
Acute hepatitis of unknown aetiology ) pada anak-anak usia 11 bulan - 5 tahun
pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah.

2. Sejak secara resmi dipublikasikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh WHO pada tanggal 15 April 2022, jumlah laporan terus bertambah.
3. Per 21 April 2022, tercatat 169 kasus yang dilaporkan di 12 negara yaitu Inggris
(114), Spanyol (13), Israel (12), Amerika Serikat (9),Denmark (6), Irlandia (<5),
Belanda (4), Italia (4), Norwegia (2), Perancis (2), Romania (1) dan Belgia(1).

4. Kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh
belas anak di antaranya (10%) memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal.

5. Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan
peningkatan enzim hati, sindrom jaundice akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri
abdomen, diare dan muntah-muntah). Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.

6. Penyebab dari penyakit tersebut masih belum diketahui. Pemeriksaan laboratorium telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut.


7. Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus yang setelah dilakukan tes molekuler,
teridentifikasi sebagai F type 41. SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus.

Sehubungan hal tersebut, sesuai SE, diminta segera mengambil langkah-langkah
sebagai berikut :

1. Memantau dan melaporkan kasus sindrom jaundice akut di Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), dengan gejala yang ditandai dengan kulit dan sklera berwarna ikterik atau kuning dan urin berwarna gelap yang timbul
secara mendadak.

2. Memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat
serta upaya pencegahannya melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

3. Menginformasikan kepada masyarakat untuk segera mengunjungi Fasilitas
Layanan Kesehatan (Fasyankes) terdekat apabila mengalami sindrom jaundice.

4. Membangun dan memperkuat jejaring kerja surveilans dengan lintas program
dan lintas sektor terutama Dinas Pendidikan, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, dan/atau Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota.

5. Segera memberikan notifikasi apabila terjadi peningkatan kasus sindrom jaundice akut maupun menemukan kasus sesuai definisi operasional kepada Dirjen P2P melalui Public Health Emergency Operation Centre (PHEOC)
melalui / WhatsApp 0877-7759-1097, atau e-mail: poskoklb@yahoo.com.


6. Menindaklanjuti laporan kasus dari Fasyankes dengan melakukan investigasi
untuk mencari kasus tambahan dengan menggunakan formulir (terlampir).

7. Dinas Kesehatan Kabupaten Kota melakukan koordinasi dengan Rumah Sakit untuk :

1. Meningkatan kewaspadaan di Rumah Sakit melalui pengamatan semuabkasus sindrom jaundice akut yang tidak jelas penyebabnya dan ditangani sesuai tata laksana serta dilakukan pemeriksaan laboratorium.

2. Melakukan hospital record review terhadap kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute hepatitis of unknown aetiology) sejak 1 Januari 2022.

3. Melaporkan jika ada kasus potensial sesuai dengan gejala Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya ( Acute hepatitis of unknown aetiology
) sesuai definisi operasional kasus kepada Dirjen P2P melalui Public Health Emergency Operation Centre (PHEOC) melalui / WhatsApp 0877-7759-
1097, atau e-mail: poskoklb@yahoo.com , dan ditembuskan kepada Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.


Info